Sabtu, 06 Oktober 2012

Tol Cibitung Cilincing Menanti Asa........

Tol Cibitung Cilincing akhirnya menuai hasil setelah terkatung-katung hingga 5 tahun yang lalu, Pembebasan tanah mulai dilakukan pada Januari 2012 dan Desember 2012 mulai pembangunan. Selesai pembangunan tol ini ditargetkan 2014-2015.



Sumber : bumn.go.id

PT MTD CTP Expressway, pemegang konsesi ruas tol Cibitung-Cilincing, akan menarik pinjaman PT Bank CIMB Niaga Tbk dan PT Bank International Indonesia senilai Rp2,94 triliun

Direktur Utama MTD CTP Expressway Yussof Merican mengatakan akad kredit ditargetkan akhir 2012. Pinjaman dipakai untuk membiayai proyek ruas Cibitung-Cilincing 33,93 km.

Dia mengatakan sudah ada pembicaraan dengan kedua bank tersebut.Dan dari pembahasan bersama itu, semua sepakat melanjutkan perjanjian pembiayaan yang dulu dilakukan pada 2007.

“Kalau nanti pembebasan lahan sudah 75%, baru akan kami lakukan financial closed yang baru,” ujarnya Jumat 2 Maret 2012.

Berdasarkan negosiasi awal, katanya, kedua perbankan itu menyatakan siap mendanai 70% kebutuhan konstruksi proyek tol tersebut, yaitu sekitar Rp2,94 triliun dari Rp 4,2 triliun.

Sementara sisanya, akan bersumber dari ekuitas perusahaan sekitar Rp1,26 triliun. “Tapi, selain kedua bank tersebut, potensi masuknya perbankan lain masih juga terbuka,” katanya.

Yussof menargetkan pembebasan lahan proyek tuntas awal 2013 sehingga konstruksi dimulai pertengahan 2012. Dengan begitu, MTD CTP Expressway dapat mengejar target operasi 2014.

Masalah administrasi

Sayang, proses pembebasan lahan baru dimulai Januari lalu, dengan tahap sosialisasi kepada masyarakat, dan belum ada pembayaran ganti rugi.

Penyebabnya a.l. karena lambatnya penerbitan perpanjangan Surat Permohonan Penetapan Lokasi Pembangunan (SP2LP) maupun pemetaan kawasan untuk tanah yang akan dibebaskan.

“Sekarang perpanjangan dari SP2LP yang kami dapat 2007 sudah ada, kami harapkan proses pembayaran ganti rugi bisa segera dilakukan,” tambahnya.

Yussof juga berharap dengan diterbitkannya UU Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan Bagi Kepentingan Umum tahun lalu, dapat  mempercepat proses pembebasan lahan di ruas tersebut.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Achmad Gani Gazaly mengakui lambatnya proses pengadaan lahan proyek tol Cibitung-Cilincing dimulai lantaran terkendala masalah administrasi.

Menurutnya, proses administrasi untuk pembebasan lahan di hampir semua ruas memang cukup panjang, sehingga baru bisa dilaksanakan awal tahun ini.

Akan tetapi, katanya, pemerintah akan tetap mengejar target penyelesaian agar operasional bisa tetap dilaksanakan pada akhir 2014.

Khusus untuk pembebasan lahan untuk proyek tol Cibitung-Cilincing diperkirakan mencapai Rp288 miliar.

Belum ada pembebasan

Hingga kini, berdasarkan data Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum, dari total kebutuhan lahan seluas 197,5 hektar, belum ada satu bidang lahan pun yang sudah dibebaskan.

Padahal penandatanganan amandemen Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) tersebut telah dilakukan sejak Agustus 2011 lalu.

Adapun keberadaan ruas tol tersebut ditujukan sebagai akses langsung untuk mendukung arus barang dari kawasan industri Cibitung dan Cikarang menuju Pelabuhan Tanjung Priok.

Pembangunan jalan tol ini rencananya akan dilakukan dalam empat tahap, yaitu seksi I Cibitung-SS Telaga Asih (2,65 km), seksi II SS Telaga Asih-SS Tembalang (9,72 km).

Kemudian seksi III SS Tembalang-SS Tarumajaya (14,29 km), dan seksi V SS Tarumajaya-Cilincing (7,27 km).

Jalan tol Cibitung-Cilincing diproyeksikan dapat menampung volume lalu lintas harian hingga 26.885 kendaraan per hari.

MTD CTP Expressway mendapatkan hak pengelolaan jalan tol itu selama 40 tahun dengan penetapan tarif awal sebesar Rp 1.323 per kilometer pada 2014. (Bsi)




Cilincing-Cibitung Dibangun Tol

Ilustrasi JORR/Istimewa
Cilincing, Wartakotalive.com 18 Juli 2012

Wilayah Cilincing, Jakarta Utara; dan Cibitung, Bekasi, yang berjarak 34,1 kilometer akan segera dihubungkan dengan akses jalan tol yang dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum.

Rencana pembangunan tol itu akan dimulai akhir tahun ini, dan diperkirakan selesai pada tahun 2014 dengan total investasi Rp 4,22 triliun.

Untuk itu, Kementerian Pekerjaan Umum bersama dengan Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara melakukan sosialiasi kepada warga yang terkena proyek pembangunan jalan tol itu.

Sosialisasi itu dihadiri puluhan warga yang digelar di Kantor Kelurahan Marunda, Jakarta Utara, Senin (16/7). Proyek pembangunan jalan tol itu akan melintasi kawasan Marunda, Cilincing, dan Semper Timur.

Meski belum menawarkan nilai ganti rugi, beberapa warga meminta harga ganti rugi tanah di atas nilai jual objek pajak (NJOP). Kasmuri (51), warga Jalan Sungai Tirem, Marunda, mengatakan, harga NJOP saat ini adalah Rp 614.000 per meter. Namun ia akan meminta ganti ruginya di atas harga NJOP tersebut.

"Saya akan minta di atas Rp 1 juta per meter, bahkan kalau bisa sampai Rp 10 juta per meter. Tahu sendiri sekarang cari tanah itu susah," kata Kasmuri.

Permintaan itu, kata Kasmuri, bukan tanpa alasan, karena ia telah menetap di tempat tersebut sejak tahun 1982 bersama istri dan enam anaknya.

"Untuk pindah itu perlu biaya dan memakan waktu mencari rumah yang baru. Apalagi bukan hanya sekedar membeli tanah saja. Tetapi harus membangun rumah kembali, dan harga bahan material sekarang kan sudah mahal," kata Kasmuri.

Hal senada dikatakan oleh Rojali (55). Ia akan meminta ganti rugi di atas NJOP. Rojali bersama sekitar 2.000-an warga yang berada di dalam satu RW akan mendukung proyek tersebut.

"Kami pasti mendukung proyek tersebut, tapi ya setidaknya harga ganti ruginya yang sesuai. Untuk itu kami akan menunggu tim untuk mendata wilayah kami," katanya.

Tri Kurniadi, Sekretaris Kota Jakarta Utara, mengatakan, saat ini masih dalam tahap pelaksanaan sosialisasi proyek pembangunan kepada warga yang kemungkinan lahan atau rumahnnya digusur untuk proyek tersebut. Untuk ganti rugi harus dilakukan pendataan terlebih dahulu terhadap lahan dan rumah milik warga.

Sementara itu, Sjaiful Anwar, Ketua Tim Pembebasan Tanah Tol Cibitung-Cilincing, mengatakan, tol sepanjang 34,1 kilometer itu terdiri dari 4,3 kilometer masuk wilayah Jakarta dan 29,8 kilometer masuk wilayah Bekasi.

"Pembangunan jalan tol dibiayai Kementerian Pekerjaan Umum, termasuk biaya pembebasan lahan. Tol ini untuk mengurai kemacetan dan memperlancar proses pendistribusian barang yang sering menggunakan truk dan trailer sehingga tidak perlu masuk ke dalam kota," kata Sjaiful. (suf)





Senin, 16 Juli 2012 23:33:09 WIB
Tol Cilincing-Cibitung Dimulai Desember 2012

PostKotaNews.com


CILINCING (Pos Kota) – Pembangunan jalan Tol Cilincing-Cibitung segera dimulai yakni Desember 2012. Diharapkan dengan adanya tol ini bakal mengurangi kemacetan Jalan Raya Cakung-Cilincing (Cacing) dan jalan-jalan lainnya di Jakarta Utara.
Pasalnya, jalan tol tersebut merupakan akses langsung untuk mendukung arus barang dari kawasan industri Cibitung-Cikarang, Bekasi, menuju Pelabuhan Tanjung Priok. Dengan demikian kendaraan trailer atau kontainer tak lagi memadati Jalan Raya Cacing.
Selain itu, nantinya Tol E1 Semper-Rorotan tak hanya akan disambungkan ke Tol E2 Cilincing, tetapi juga disambungkan ke Cibitung dalam proyek Tol Cilincing-Cibitung ini.
Demikian diungkapkan Sekertaris Kota Jakarta Utara, Tri Kurniadi, di sela-sela sosialisasi pembangunan Tol Cilincing-Cibitung di Kelurahan Marunda, Senin (16/7).
Menurutnya, saat ini sedang dilaksanakan sosialisasi proyek pembangunan kepada warga yang kemungkinan lahan atau rumahnya terkena pembangunan proyek itu.
“Dalam pembangunan ini setidaknya dibutuhkan areal selebar 40 meter dari bahu jalan dengan panjang 3 kilometer. Saat ini kami baru pengenalan proyek. Jadi belum ada pembicaraan luas lahan yang akan dibebaskan, dan harga untuk pembebasan lahan,” jelas Tri Kurniadi.

PEMBEBASANLAHAN

Sekko menjelaskan proyek pembangunan jalan tol ini sepenuhnya dibiayai Kementerian Pekerjaan Umum, termasuk untuk biaya pembebasan lahan. Sementara Pemerintah Kota Jakarta Utara hanya membantu memfasilitasi Kementeriaan PU untuk bertemu dengan warga.
Salah seorang warga, Waryono,28, berharap pemerintah bisa memberikan harga pembebasan lahan yang adil. Sementara ini nilai jual objek pajak (NJOP) di kawasan Cilincing berkisar Rp 700.000 sampai Rp1,5 juta per meter persegi.
“Intinya kami sebagai warga sangat mendukung adanya pembangunan jalan tol ini, tapi sejauh ini saya belum tahu, apakah rumah saya kena pembebasan lahan atau tidak. Makanya saya mengikuti sosialisasi ini,” katanya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Mamat, 39, warga lainnya. Ia mengaku sangat mendukung adanya pembangunan jalan tol tembus dari Marunda ke Cibitung ini. “Mudah-mudahan dengan adanya jalan tol ini ke depan Jalan Cacing tidak akan macet seperti sekarang ini,” jelasnya. (wandi/ak/o)
Teks :Sekertaris Kota Jakarta Utara Tri Kurniadi didampingi Lurah Marunda Ali Mudasir (ke tiga dari kanan) saat sosialisasi pembangunan jalan tol Marunda- Cibitung. (wandi)

2 komentar:

  1. Pertahankan Hak Kita, jangan mau di jadikan korban yg di rugikan.

    BalasHapus
  2. PAK KLO BOLEH TAU PETA DAERAH MANA SAJA YG TERKENA DAMPAK PEMBANGUNAN, TKS

    BalasHapus